BBM Naik, Harga Pensil Alis Stabil

Saya kecewa, BBM kok naiknya Selasa dini hari. Harusnya kan “SENIN harga naik”  kata mbak Feni Rose.  Seandainya harga baru berlaku mulai Senin pagi jam 9, pasti seru. Anak sekolah libur, gurunya sibuk antri beli bensin. Kantor juga libur, toko-toko tutup, pasar sepi. Pusat keramaian berpindah ke pom bensin. Panic buying.

Malam itu –menjelang pergantian harga- masyarakat rela antri berjam-jam demi memenuhi tangki kendaraannya. Motor paling 3 liter, mobil kurang lebih 40 liter. Demi selisih harga enam ribu rupiah untuk motor dan 80 ribu untuk mobil. Padahal habis ngantri, mampir warung kopi, habis 25 ribu. Ada pula yang kecapekan, trus masuk angin. Ongkos berobat seratus ribu. Malah boros.

Kadang emang gak rasional ya. Bensin 8500 diprotes, padal mampu beli rokok 16 ribu, mampu beli tiket konser 150 rb, mampu beli maskara dan bulu mata palsu. Tapi sudahlah…, saya gak mau mencibir mereka. Ini tentang pilihan kok.

Dan malam itu saya memilih tidak ikutan berjubel-jubel ngantri. Di rumah saja, memantau perkembangan dari televisi dan dunia maya. Ternyata respon masyarakat beragam. Ada yang setuju harga BBM naik, tapi lebih banyak yang kontra. Masing-masing punya dalil yang shohih. Saling adu argumen, adu logika, basis data dll. Yang setuju ada benarnya, yang nolak gak salah juga. Saya malah jadi bingung.

Ujung-ujungnya di socmed malah terjadi twitwar, saling hina, saling menyalahkan. Gara-gara kamu pilih Jokowi sih, jadinya kayak gini. Ini pasti agenda asing. Yang dihina gak mau terima juga; emang kalau Presidennya Prabowo bisa lebih baik, mentang-mentang kuda gak minum bensin. *kasihan kudanya pak prabs jadi kebawa-bawa.

Berantem lagi deh kayak pas Pilpres. Kalau kayak gini ya ra uwis-uwis, gak selesai-selesai. Heran deh sama orang-orang yang suka kelahi dan debat kusir di dunia maya. Pasti hidupnya selo banget. Atau jangan-jangan mereka kurang piknik.

Saya sebagai rakyat kecil, jujur merasa keberatan. Masalahnya kalau BBM naik, harga yang lain ikutan naik. Nasi kuning naik, susu impor naik, kontrakan naik, tiket mudik naik juga. Semua naik. Gaji aja yang gak naik. Sedih kan.

Tapi kalau pengurangan subsidi ini berdampak positif, APBN gak jebol, ada program pro rakyat, kemiskinan berkurang, banyak maslahatnya, gak ada salahnya diterima sambil ngedumel. Mau bagaimana lagi, mengeluh juga gak menyelesaikan masalah.

Dari pada menyalahkan keadaan, mending naikkan saja ikhtiar dan doa. Biar rejekinya naik lebih banyak. Saya doakan juga semoga pengalihan dana subsidi BBM ini benar-benar tepat sasaran. Kalau sampai dana subsidi BBM dikorupsi, saya sumpahin yang ngambil duit itu mencret tujuh hari tujuh malam, tujuh turunan. Biar saja. Biar kapok. Syukur-syukur kalau tiba-tiba pemerentah dapat hidayah, trus harga BBM diturunkan lagi. Saya ikhlas menerima.

Oh ya, satu hal yang patut disyukuri kaum hawa, meski harga BBM naik, ternyata harga pensil alis tetep stabil.

Iklan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s