Hore Gajian

KATA MUTIARA GUS MUS

Hari ini saya berangkat lebih awal ke tempat kerja. Bukan karna rajin sih, cuma mau mampir ATM, tarik uang tunai dan bayar ini itu, tagihan listrik, telpon, asuransi dll. Biasa lah awal bulan, gajian bro. Maklum buruh. Sudah terima SMS dari 3355 bawaannya senyum terus.  Saya yakin pagi ini banyak yang tersenyum manis -bukan hanya saya – setelah berjuang 33 hari melewati bulan Oktober.

Gak ada lagi yang I Hate Monday, karna ini Senin yang indah dan penuh semangat. Entah tiga minggu lagi, eh gak sampai ding, dua minggu lagi, atau bahkan seminggu lagi. Senyum manis berubah jadi senyum kecut saat baca buku tabungan. Perih…, sakitnya tuh di sini *nunjuk dompet

Sebenarnya bukan gajinya yang kurang sih, kalendernya saja yang kepanjangan. Coba sebulan cuma lima belas hari. Saya setuju kalau ada yang mau buat kalender tandingan.

Begitulah gaji, seperti menstruasi. Nunggunya sebulan, dapetnya cuma seminggu. Ada yang bilang juga gaji itu ilusi, yang sebenarnya adalah tagihan-tagihan. Gaji cuma numpang lewat. Kalau menurut saya, gaji itu aurat. Sebesar apapun penghasilan kita, gak perlu dipamerin ke orang lain. Pamali.

Ada yang berpenghasilan 2 juta sebulan tapi cukup buat hidup sekeluarga. Ada yang berpenghasilan 25 juta sebulan, ternyata masih kurang. Dikasih sedikit cukup, diberi banyak habis. Kenapa bisa gitu ya?

Kalau kata mas Yodhia Antariksa, seorang ahli manajemen, ini terjadi karena hedonic treadmill. Pendapatan naik berkali-kali lipat, tapi kebutuhan, keinginan, gaya hidup juga ikut meningkat. Hedonic treadmill itu seperti berjalan di atas treadmill, kebahagiaan tidak maju-maju, tidak bertambah, meski income selalu meningkat. Karna nafsu untuk beli ini itu tak pernah habis.

Ada saja godaanya ketika berkelimpahan. Dulu nyaman pakai Alisan, tiba-tiba pengen pakei Arrow. Dulu enjoy pakai Senia, tiba-tiba kepikiran asyik juga ya kalau pakai Rubicon. Ganti deh. Dulu ngopi cuma di rumah, penghasilan naik, kepengen nyoba ngopi di cafe yang ada live music nya. Dulu pakai sepatu buatan tanggul angin, sekarang Louis Vuitton. Yang tadinya cukup dengan mito, sekarang maunya iPhone 6 Plus.

Yang dulunya cuek sama penampilan, sekarang rajin nyalon, facial, spa, perawatan. Pokoknya ekspetasi terhadap materi gak ada habisnya, terus meningkat. Kalau dibiarkan, bahaya nih. Akan terbentuk mindset bahwa bahagia itu harus mewah, tergantung materi. Padahal gak gitu kan?

Bagaimana agar terlepas dari belenggu hedonic treadmill? Kata orang bijak, cara terbaik adalah dengan bersikap sederhana, tidak silau dengan materi. Dan ini berat. Berat banget sob. Gara-gara materi, gegara uang, teman bisa jadi lawan, saudara bisa jadi orang lain. Uang akan membuat sifat asli seseorang kelihatan.

Ingat kasus orang tua yang digugat anaknya sendiri karna rebutan rumah gak? Meski sulit, bukan berarti tidak mungkin lho. Yang penting ada niat dan kemauan untuk bersikap sederhana, hemat –bukan pelit lho ya – minimalis dan menjauhi kemewahan. Sederhana bukan berarti harus hidup menderita, dekil dan lusuh. Bukan seperti itu. Itu namanya malah gak bersyukur. Sederhana itu,  saat penghasilanmu 500 juta sebulan, tapi kamu milih naik Avanza daripada Alphard.

Pada akhirnya bahagia itu justru lahir dari hal-hal sederhana, seperti sarapan bareng anak-anak, memeluk dan mencium mereka sebelum berangkat sekolah. Ini bahagia banget.

Selamat hari Senin, selamat gajian. Semoga senantiasa diberi kecukupan, keberkahan dan kebahagiaan.

Iklan

3 pemikiran pada “Hore Gajian

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s