L D R

Father_and_son1

Jaman sekarang siapa sih yang gak tahu LDR. Long Distance Relationship. Dimaknai sebagai hubungan jarak jauh. Biasanya tentang urusan asmara. Kini istilah keren itu tak lagi milik anak muda yang lagi pacaran. Pasutri yang telah beranak pinak pun turut berpartisipasi menyemarakkan LDR.

Pekerjaan sering dijadikan kambing jantan hitam mengapa harus LDR. Karena memang ada sebagian pekerjaan yang nomaden-nya kebangetan, pindah-pindahnya kayak bis AKAP, antar kota antar pulau.

Setahun di Jawa, dua tahun di Papua, tiga tahun di Sumatera, sembilan bulan di Sulawesi, empat tahun di Kalimantan. Muter terus. Dari kota kecil yang sering mati lampu sampai kota besar yang macet dan banjir. Ini beneran ada lho. Serius. Pokoknya keliling nusantara atas biaya dinas.

Kasihan keluarga harus ikut merantau, repot ngurus pindahan, susah adaptasi, minimnya fasilitas kesehatan dan pendidikan, gegar budaya, merupakan dalih-dalih tambahan yang semakin memantapkan diri untuk menjalani LDR, meninggalkan keluarga di kampung halaman.

Padahal menjadi LDR itu tak mudah. Berdasarkan hasil survey, hal terberat dari menjalani LDR adalah : kesepian, susah komunikasi, kesulitan melampiaskan hasrat seks, adanya rasa curiga, takut godaan saat sedang berjauhan dan yang pasti berat di ongkos. Ongkos pulsa, ongkos tiket dll.

Tapi tidak semua orang memilih untuk menjadi LDR. Meski harus melanglang buana demi tugas. Ada yang penuh kesadaran justru mengajak serta seluruh anggota keluarga, menemani tour of duty. Siapakah mereka? Mengapa demikian?

Mereka adalah tipe orang yang mencintai keluarga. Menganggap keluarga laksana harta tak ternilai yang harus dijaga dengan segenap jiwa. Mereka ingin hadir dalam setiap episode kehidupan. Sebab hadiah terbaik bagi orang-orang tercinta adalah kehadiran. Ya KEHADIRAN.

Hadir di samping istri saat penat melanda, sekedar mendengar curhatannya, mengantar ke pasar, arisan, membantu beres-beres rumah. Hadir di kala anak-anak butuh teman bersepeda dan bermain layang-layang, membantu mengerjakan PR, mengantar sekolah, mengambil raport, mendongeng sebelum tidur dan nyebokin anak. Hadir secara nyata, bukan lewat telepon atau dunia maya. Sederhana, tapi begitu bermakna.

Anak-anak jua lah yang menjadi sumber semangat bagi mereka. Sirna rasa letih ketika selepas kerja disambut celoteh riang anak-anak. Tak pernah ada kekhawatiran meski anak-anak bersekolah di kota kecil yang katanya kualitas pendidikannya rendah. Karna mereka yakin dengan limpahan kasih sayang orang tua, anak-anak akan semakin cerdas. Bukankah seorang ayah lebih berarti dari seratus guru. Dari rumah tangga yang baik akan lahir anak-anak yang baik.

Mereka tak ingin kehilangan golden moment. Mereka tak hanya sibuk memberi materi, tapi mengabaikan kebutuhan hati dan nurani. Mereka sedang berusaha menjadi ayah dan suami yang hebat.

Anyway, yang lagi LDR-an semoga diberi kemudahan segera berkumpul dengan keluarga. Menikmati secuil keindahan firdaus di dunia. Kalau gak sekarang, kapan lagi. Jangan sampai ada penyesalan di hari tua.

Iklan

Komentar kamu

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s